Laksamana Yi Sun-Shin: Laksamana Agung Bangsa Korea

“Apabila kita dilahirkan di dunia, kita hanya ada dua pilihan. Sama ada melakukan yang terbaik untuk berkhidmat penuh setia demi negara sekiranya peluang itu dikurniakan di depan mata, atau hanya sekadar membajak di kebun.” (Yi Sun-Shin, tahun 1576)

Laksamana Yi Sun-Shin – Dedikasi yang ditunjukkan oleh lelaki ini terhadap negara yang dicintainya tiada tandingannya. Dan, pengorbanannya ini pun demi menjaga tanah air wajar di dendangkan.

Berikut adalah kisah tentang Yi Sun-Shin, laksamana agung Joseon yang penuh kaliber, taat dan berdedikasi dalam menjaga negaranya daripada ancaman penceroboh.

1. Masa Kecil

Yi lahir pada 28 April 1545 di Jalan Geoncheon-dong, Hanseong (kini Seoul, ibu kota Korea Selatan), dan berasal dari keluarga bangsawan Klan Deoksu Yi. Saat kecil, Yi sering bermain perang-perangan dengan anak sebayanya.

Dalam usia yang masih sangat belia, dia sudah menunjukkan talenta kepemimpinan mumpuni. Kemudian saat remaja, dia sudah bisa membentuk busur maupun anak panah sesuai dengan yang dikehendakinya. Yi juga menjadi siswa yang pintar di membaca dan menulis Hanmun.

2. Karir Militer

Pada 1576, Yi lulus dari gwageo atau ujian. Konon, dia memukau para pengujinya ketika ujian memanah. Namun, Yi mematahkan kakinya ketika mengikuti ujian kavaleri. Setelah lulus, Yi ditempatkan di Bukbyeong (Pasukan Garis Depan Utara) yang berlokasi di Provinsi Hamgyeong.

Saat itu, Yi merupakan perwira junior berusia 32 tahun. Meski begitu, dia telah menunjukkan kemampuan memimpin hebat ketika bertahan melawan kawanan perampok Jurchen.

Bahkan pada 1583, dia menangkap pemimpinnya, Mu Pai Nai. Sayangnya, kegemilangan Yi malah menimbulkan kecemburuan dari atasannya. Dipimpin Jenderal Yi Il, terdapat sebuah teori konspirasi yang menuduh Yi melakukan desersi. Yi segera dicopot dari pangkatnya, disiksa, dan kemudian dipenjara sebelum dibebaskan.

Bebas, dia masih diizinkan bergabung sebagai prajurit tamtama. Namun, kecemerlangan Yi membuatnya kembali naik pangkat. Dia dipromosikan sebagai Komandan Hunryeonwon (pusat pendidikan militer), kemudian dipindah sebagai hakim militer.

Performanya membuatnya diganjar promosi sebagai Komandan Provinsi Jeolla, Komandan Garnisun Wando, maupun Komandan Distrik Angkatan Laut Jeolla Kiri. Jabatan terakhir yang diembannya adalah komandan di Yeosu pada 13 Maret 1591. Meski tak punya dasar AL, Yi mampu membentuk armada tangguh yang dipakai membendung Jepang.

3. Invasi Jepang dan Kegemilangan Yi

Pada 23 Mei 1592, daimyo (tuan tanah besar) epang era Sengoku, Toyotomi Hideyoshi, mengerahkan bala tentaranya dan menghantam Semenanjung Korea.

Dan pada saat itu, sasarannya adalah Korea yang di perintah Dinasti Joseon dan China yang berada dalam kekuasaan Dinasti Ming. Korea berusaha membendung Jepang dengan kekuatan lautnya.

Disinilah nama Yi menjadi termasyhur. Dengan total, memenangkan 23 perang melawan AL Jepang. Di antara kisahnya yang terkenal adalah Perang Myeongnyang dan Pertempuran Pulau Hansan.

Ketika pasukan Toyotomi menyerang Busan, Yi segera memberangkatkan armadanya dari markas mereka di Yeosu. Meski berpengalaman dalam pertempuran laut, Yi memperoleh banyak kemenangan.

Di antaranya adalah pertempuran Okpo dan Pertempuran Sacheon yang membuat para jenderal Negeri “Matahari Terbit” mulai khawatir akan ancaman di perairan.

Hideyoshi kemudian menambah jumlah armada kapal perang menjadi 1.700 unit setelah gagal menyewa kapal galleon Portugis demi mengamankan dominasi laut.

Meski kalah jumlah, Yi tetap bisa mengusir AL Jepang. Terdaapt sejumlah alasan. Di antaranya Yi rajin mengecek kesiapan pasukannya dan melakukan perubahan sesuai kebutuhan.

Kemudian dia juga membangun Geobukseon atau Kapal Kura-kura. Dia juga pintar memanfaatkan kawasan pantai selatan Korea, laut pasang, hingga terusan sempit sebagai senjatanya.

Prestasinya itu pun membuatnya diganjar titel Samdo Sugun Tongjesa atau Komandan Angkatan Laut 3 Provinsi. Gelar yang dipakai para komandan AL Korea hingga 1896.

4. Pertempuran Noryang dan Kematian

Pada 15 Desember 1598, armada Jepang di bawah pimpinan Shimazu Yoshihiro Teluk Sachon yang berlokasi di timur Terusan Noryang. Kedatangannya sudah diketahui Yi.

Berbekal 82 Panokseon (kapal cepat), 8.000 pasukan, dibantu dengan 7.600 pasukan Ming dibawah kendali Laksamana Chen Lin, mereka pun menghantam Jepang.

Peperangan yang terjadi pada 16 Desember 1598 pukul 12.00 dini hari itu memberikan kemenangan bagi pasukan gabungan Joseon dan Ming, serta membuat Jepang mundur.

Saat Jepang mundur itulah, Yi memerintahkan pengejaran. Nahas, sebuah peluru yang ditembakkan pasukan Jepang mengenai ketiak kiri dan membuatnya menderita luka fatal.

“Perang ini tengah mencapai puncaknya. Tabuhlah genderang perangku, dan jangan sekali-kali mengabarkan kematianku,” begitulah ucapan dari Laksamana Yi sebelum meninggal.

Jenazah Yi sempat ditaruh di kabin kapal dengan Yi Wan, sang keponakan, mengenakan baju zirah pamannya dan menabuh genderang perang guna memberi semangat.

Jenazah sang panglima laut itu lalu dibawa ke kampung halamannya di Asan untuk dimakamkan di sebelah ayahnya, Yi Jeong. Kuil pun dibangun untuk menghormatinya.